JAKARTA, Cobisnis.com – Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Klinik dan Kedokteran Laboratorium Indonesia (PDS PatKLIn), Kementerian Kesehatan RI, Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalassemia Indonesia (POPTI), dan Sysmex Indonesia memperkuat kolaborasi skrining talasemia untuk meningkatkan kesadaran masyarakat dan memperluas deteksi dini di Indonesia.
Inisiatif tersebut melanjutkan upaya edukasi, deteksi dini, dan tindak lanjut berkelanjutan. Kick-off program dilaksanakan dalam rangkaian Pertemuan Ilmiah Tahunan (PIT) PDS PatKLIn 2026 di Kupang, Nusa Tenggara Timur, sebagai momentum memperkuat komitmen lintas sektor.
Talasemia dan Pentingnya Deteksi Dini
Penyandang talasemia mayor memerlukan perawatan jangka panjang, termasuk transfusi darah secara berkala sepanjang hidup. Kondisi ini tidak hanya memengaruhi kualitas hidup pasien dan keluarga, tetapi juga membutuhkan alokasi sumber daya kesehatan secara berkelanjutan.
Sementara itu, pembawa sifat talasemia sering kali tidak menunjukkan gejala khas sehingga statusnya tidak diketahui tanpa pemeriksaan. Deteksi dini di fasilitas pelayanan kesehatan menjadi penting untuk mengenali pembawa sifat dan mengantisipasi risiko kelahiran anak dengan talasemia mayor, terutama pada pasangan yang sama-sama membawa sifat talasemia.
Data Yayasan Thalassemia Indonesia (YTI) tahun 2024 yang dikutip Kementerian Kesehatan RI mencatat 13.939 penyandang talasemia di Indonesia. Namun, jumlah tersebut diperkirakan hanya sebagian kecil dari kondisi sebenarnya.
Sekitar 3–10 persen penduduk Indonesia, atau sekitar 8,5–27 juta orang, diperkirakan merupakan pembawa sifat talasemia. Banyak di antaranya belum mengetahui statusnya sehingga talasemia berpotensi menjadi fenomena gunung es.
Data tersebut menegaskan pentingnya edukasi, pemeriksaan, konseling, dan tindak lanjut medis yang tepat. Kolaborasi lintas sektor diharapkan menjadi langkah strategis untuk membangun deteksi dini talasemia yang terintegrasi dan berkelanjutan, sejalan dengan prioritas kesehatan nasional.
Ketua Umum PDS PatKLIn periode 2025–2028, Dr. dr. Teguh Triyono, M.Kes, Sp. PK, Subsp. KV (K), Subsp. BDKT (K), mengatakan pencegahan dan deteksi dini talasemia membutuhkan komitmen serta kolaborasi berkelanjutan.
“Pencegahan dan deteksi dini talasemia membutuhkan komitmen dan kolaborasi berkelanjutan. Melalui inisiatif ini, PDS PatKLIn ingin memperkuat peran kedokteran laboratorium dalam memastikan kualitas pemeriksaan, meningkatkan edukasi masyarakat, dan mendorong tindak lanjut yang tepat demi kesehatan generasi mendatang,” ujarnya.
Peran Laboratorium dan Mitra Industri
Sysmex Indonesia berperan sebagai mitra kolaboratif yang mendukung penguatan kapasitas pemeriksaan laboratorium, edukasi berbasis ilmiah, serta sinergi lintas sektor untuk mendorong deteksi dini talasemia.
Perwakilan Sysmex Indonesia menyampaikan bahwa kontribusi di bidang kesehatan tidak hanya mencakup penyediaan teknologi, tetapi juga kolaborasi, keahlian medis, dan edukasi.
Menurutnya, teknologi baru dapat memberikan dampak transformatif apabila dipadukan dengan kolaborasi yang kuat. Sinergi antara Sysmex, PDS PatKLIn, Kementerian Kesehatan, dan komunitas pasien diharapkan mampu mengubah inovasi menjadi dampak kesehatan nyata.
Skrining talasemia juga dinilai sebagai langkah strategis untuk memperkuat pencegahan, meningkatkan deteksi dini, dan menjaga kualitas generasi Indonesia.
Program Berlangsung hingga Desember 2027
Kick-off di Kupang menandai dimulainya rangkaian kegiatan yang berlangsung hingga Desember 2027. Kegiatan tersebut mencakup skrining talasemia dan edukasi masyarakat, termasuk dalam momentum Hari Talasemia Sedunia pada Mei 2027.
Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah pemeriksaan, tetapi juga dari meningkatnya kesadaran masyarakat, meluasnya akses terhadap edukasi, serta keberlanjutan kolaborasi dalam memperkuat pencegahan dan deteksi dini talasemia.
Melalui kolaborasi PDS PatKLIn, Kementerian Kesehatan RI, POPTI, dan Sysmex Indonesia, inisiatif ini diharapkan memperkuat deteksi dini talasemia secara berkelanjutan dan mendukung terwujudnya generasi Indonesia Emas.