Pejabat China Gunakan ChatGPT dan Tak Sengaja Ungkap Operasi Intimidasi Global

Oleh Zahra Zahwa pada 27 Feb 2026, 07:25 WIB

JAKARTA, Cobisnis.com – Seorang pejabat penegak hukum China dilaporkan tanpa sengaja membongkar operasi pengaruh global setelah menggunakan OpenAI dan platform ChatGPT layaknya buku harian untuk mendokumentasikan kampanye penindasan terhadap para pembangkang China di luar negeri. Dalam laporan terbaru pembuat ChatGPT tersebut, disebutkan bahwa operasi pengaruh China ini berfokus pada intimidasi terhadap pembangkang, termasuk dengan menyamar sebagai pejabat imigrasi Amerika Serikat. Modus itu digunakan untuk memperingatkan seorang pembangkang China yang berbasis di AS bahwa pernyataan publiknya melanggar hukum.

Dalam kasus lain, operator diduga menggunakan dokumen palsu dari pengadilan daerah di AS untuk mencoba menutup akun media sosial seorang pembangkang China. Laporan tersebut menjadi salah satu contoh paling jelas bagaimana rezim otoriter dapat memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan untuk mendukung operasi sensor dan intimidasi lintas negara. Operasi ini disebut melibatkan ratusan operator serta ribuan akun palsu di berbagai platform media sosial. Ben Nimmo, penyelidik utama di OpenAI, menyebut praktik ini sebagai bentuk represi transnasional modern China yang terindustrialisasi dan terkoordinasi.

ChatGPT Sebagai “Buku Harian” Operasi Rahasia

Menurut OpenAI, pejabat tersebut menggunakan ChatGPT untuk mencatat perkembangan jaringan rahasia, sementara konten propaganda diproduksi dengan alat lain dan disebarkan melalui akun serta situs web. Setelah aktivitas tersebut terdeteksi, OpenAI memblokir akun pengguna yang bersangkutan.

Tim investigasi OpenAI berhasil mencocokkan catatan dalam ChatGPT dengan aktivitas nyata di dunia maya. Salah satu rencana yang tercatat adalah upaya memalsukan kematian seorang pembangkang China melalui pembuatan obituari palsu dan foto batu nisan. Rumor palsu tentang kematian tersebut memang sempat beredar secara online pada 2023.

Dalam kasus lain, pengguna ChatGPT meminta bantuan untuk menyusun rencana mendiskreditkan Perdana Menteri Jepang yang baru menjabat, Sanae Takaichi, termasuk dengan memancing kemarahan publik terkait tarif AS terhadap produk Jepang. ChatGPT menolak permintaan tersebut. Namun, tak lama setelah Takaichi menjabat, tagar-tagar yang menyerangnya muncul di forum daring populer.

Persaingan AI AS-China Makin Intens

Laporan ini muncul di tengah persaingan ketat antara Amerika Serikat dan China dalam penguasaan teknologi kecerdasan buatan. Di sisi lain, Departemen Pertahanan AS (Pentagon) juga sedang bersitegang dengan perusahaan AI lain, Anthropic. Menteri Pertahanan AS Pete Hegseth dilaporkan memberi tenggat kepada CEO Anthropic, Dario Amodei, untuk melonggarkan pengamanan model AI mereka atau berisiko kehilangan kontrak penting dengan Pentagon.

Michael Horowitz, mantan pejabat Pentagon yang kini menjadi profesor di University of Pennsylvania, mengatakan laporan OpenAI menunjukkan bagaimana China secara aktif memanfaatkan AI untuk memperkuat operasi informasi dan pengawasan. Menurutnya, kompetisi AI antara AS dan China kini tidak hanya terjadi di garis depan inovasi teknologi, tetapi juga dalam penerapan sehari-hari untuk kepentingan keamanan dan politik.