JAKARTA, Cobisnis.com – Para astronom menyatakan telah memecahkan salah satu misteri terbesar planet Saturnus, termasuk asal usul bulan terbesarnya, Titan. Temuan ini juga diyakini dapat menjelaskan bagaimana cincin indah Saturnus terbentuk. Titan, bulan terbesar Saturnus, dikenal sebagai salah satu objek paling unik di tata surya. Ukurannya sekitar setengah Bumi dan bahkan lebih besar dari Merkurius. Gravitasi Titan begitu besar hingga membuat Saturnus bergoyang dan miring. Selain itu, Titan diketahui menjauh dari Saturnus sekitar 11 sentimeter per tahun jauh lebih cepat dari perkiraan sebelumnya. Jika terus berlanjut, Titan berpotensi terlepas dari orbitnya.
Sejumlah pertanyaan tentang sistem Saturnus, yang memiliki 274 bulan, muncul dari data yang dikumpulkan wahana antariksa Cassini yang menjelajahi sistem Saturnus pada 2004–2017. Penelitian terbaru yang dipublikasikan di ArXiv dan diterima di The Planetary Science Journal menggabungkan teori lama, data Cassini, serta simulasi komputer untuk mengusulkan skenario baru pembentukan Titan.
Penulis utama studi, Matija Ćuk dari SETI Institute, menyebut sekitar setengah miliar tahun lalu terdapat satu bulan tambahan yang kemudian bertabrakan dengan Titan dan menyatu dengannya. Tabrakan tersebut diduga juga menghasilkan Hyperion, bulan Saturnus yang bentuknya tidak beraturan dan jauh lebih kecil dari Titan. Menurut teori ini, Hyperion bisa merupakan pecahan dari tabrakan tersebut atau terbentuk dari puing-puing yang mengumpul di orbit Titan.
Peristiwa tersebut juga diyakini memicu pembentukan cincin Saturnus. Gangguan gravitasi akibat merger Titan dengan bulan yang hilang itu dapat menyebabkan bulan-bulan bagian dalam saling bertabrakan, menghasilkan puing yang akhirnya membentuk cincin sekitar 100 juta tahun lalu.
Bulan Tambahan Jelaskan Kemiringan Saturnus
Kemiringan Saturnus sebesar 26,7 derajat sebelumnya diyakini akibat gangguan gravitasi dari Neptunus. Namun data Cassini menunjukkan ketidaksesuaian antara keduanya. Pada 2022, ilmuwan mengusulkan adanya bulan hilang bernama Chrysalis yang berperan menjaga resonansi Saturnus dengan Neptunus sebelum akhirnya hancur dan membentuk cincin.
Ćuk dan timnya menyempurnakan teori tersebut. Mereka menduga bukan sekadar bulan yang hancur karena terlalu dekat dengan Saturnus, melainkan terjadi tabrakan antara “proto-Hyperion” bulan besar yang kini hilang dengan Titan purba. Kehadiran bulan tambahan itu sebelumnya menjaga sinkronisasi Saturnus dan Neptunus. Setelah hilang akibat tabrakan, keseimbangan tersebut terganggu, menjelaskan kondisi Saturnus saat ini. Jika benar, skenario ini juga menjelaskan mengapa orbit Hyperion terkunci dengan Titan serta mengapa orbit Titan kini terus melebar.
Misi Dragonfly Akan Uji Teori
Untuk menguji teori ini, ilmuwan menantikan misi Dragonfly milik NASA. Wahana berbentuk seperti drone bertenaga nuklir itu dijadwalkan meluncur pada 2028 dan tiba di Titan pada 2034. Dragonfly akan mendarat di berbagai lokasi dan menganalisis sampel langsung dari permukaan Titan. Ilmuwan senior dari Jet Propulsion Laboratory NASA, Linda Spilker, menyebut penelitian ini memberikan bukti kuat bahwa Hyperion dan cincin Saturnus kemungkinan terbentuk jauh setelah Saturnus sendiri terbentuk.
Profesor emeritus William B. Hubbard dari University of Arizona juga menilai teori baru ini lebih masuk akal dibanding hipotesis sebelumnya. Sementara itu, Carl Murray dari Queen Mary University of London menggambarkan penelitian ini seperti “CSI: Saturnus” upaya forensik kosmik untuk merekonstruksi peristiwa masa lalu berdasarkan petunjuk gravitasi dan orbit bulan-bulannya. Para astronom telah lama menduga sistem Saturnus terus berevolusi sejak terbentuk. Namun kini, berkat data Cassini dan analisis terbaru, peran Titan dianggap kunci dalam memahami dinamika kompleks sistem Saturnus selama ratusan juta tahun terakhir.