JAKARTA, Cobisnis.com – Teknologi kecerdasan buatan (AI) terbaru asal China kembali mengguncang industri hiburan global. Model AI bernama Seedance 2.0 yang dikembangkan oleh ByteDance menjadi sorotan setelah mampu menghasilkan video sinematik realistis hanya dalam hitungan menit.
Dalam beberapa hari terakhir, video viral yang menampilkan figur publik seperti Tom Cruise dan Brad Pitt bertarung di atap gedung, hingga mantan Presiden AS Donald Trump beradegan kungfu, beredar luas di media sosial. Bahkan musisi Kanye West digambarkan menari di istana kekaisaran China sambil bernyanyi dalam bahasa Mandarin. Seluruh video tersebut dibuat menggunakan Seedance 2.0, yang disebut sebagai salah satu model AI pembuat video paling canggih saat ini.
Hollywood Bereaksi Keras
Tak lama setelah peluncurannya, dua raksasa media Hollywood, Paramount dan Disney, melayangkan surat peringatan hukum (cease-and-desist) kepada ByteDance atas dugaan pelanggaran hak kekayaan intelektual. Organisasi perdagangan industri film AS, Motion Picture Association, serta serikat pekerja aktor SAG-AFTRA, juga mengecam penggunaan karya berhak cipta tanpa izin. ByteDance merespons dengan menyatakan akan memperkuat perlindungan terhadap hak cipta dan penggunaan kemiripan wajah atau suara tanpa izin.
Seberapa Canggih Seedance 2.0?
Model AI ini mampu menghasilkan adegan video pendek menggunakan kombinasi teks, gambar, audio, dan video referensi dengan kualitas yang sangat realistis serta biaya produksi lebih rendah. Penulis dan produser film Rhett Reese bahkan menyebut teknologi ini bisa “merevolusi atau menghancurkan Hollywood.”
Seorang blogger teknologi China mengungkapkan bahwa Seedance 2.0 sempat mampu mereplikasi suara realistis hanya dari satu gambar, memicu kekhawatiran soal deepfake dan privasi. Fitur tersebut kemudian ditarik dan ByteDance mewajibkan verifikasi identitas untuk pembuatan avatar digital.
Regulasi China Makin Ketat
Kemunculan Seedance 2.0 terjadi bersamaan dengan pengetatan regulasi konten AI di China. Otoritas dunia maya China menyatakan telah menindak lebih dari 13.000 akun dan menghapus ratusan ribu konten AI yang tidak diberi label. Namun, di sisi lain, pemerintah China juga menjadikan teknologi canggih sebagai prioritas strategi nasional. Persaingan AI antara China dan Amerika Serikat kini disebut-sebut menyerupai “Perang Antariksa” versi abad ke-21.
Dampak Bagi Industri AI China
Analis menilai China kini berada dalam posisi dilematis: mendorong inovasi AI sekaligus membatasi penggunaannya. Pembatasan akses data dan hak cipta, termasuk tekanan dari perusahaan AS, bisa memengaruhi pengembangan model AI ke depan. Sebagai contoh, Disney baru-baru ini menjalin kerja sama dengan OpenAI untuk memberikan akses karakter berhak cipta kepada model video AI Sora milik perusahaan tersebut.
Sementara itu, perusahaan China seperti DeepSeek membuktikan bahwa inovasi tetap bisa berkembang meski dengan anggaran lebih kecil. Persaingan AI global kini bukan hanya soal teknologi, tetapi juga soal regulasi, hak cipta, dan siapa yang akan memimpin revolusi industri digital berikutnya.