JAKARTA, Cobisnis.com — Seorang petugas perempuan di SPBU 54.801.48, Jalan Diponegoro, Denpasar, Bali, tak kuasa menahan tangis saat Gubernur Bali Wayan Koster meninjau lokasi pada Rabu (14/10) malam. Ia mengungkapkan keberatan setelah diminta bekerja dalam operasional SPBU selama 24 jam untuk mengatasi antrean kendaraan.
Video yang memperlihatkan luapan emosi petugas tersebut menyebar luas di media sosial. Dalam rekaman itu, ia menyampaikan bahwa dirinya juga memiliki batas kemampuan fisik dan membutuhkan waktu untuk beristirahat.
"Saya bukan robot, saya juga capek, Pak! Iya, saya pegawai, tapi saya punya hak juga!" ujar operator perempuan tersebut sembari ditenangkan rekan-rekannya di lokasi, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (16/10/2026).
Kejadian ini berlangsung ketika sejumlah wilayah di Bali mengalami gangguan pasokan Pertalite sejak awal pekan. Dampaknya, antrean kendaraan mengular di Denpasar, Badung, dan beberapa daerah lainnya.
Kendala cuaca serta keterlambatan kapal pengangkut BBM untuk bersandar di depo menghambat distribusi bahan bakar. Kondisi tersebut turut memicu pembelian berlebihan akibat kekhawatiran warga terhadap ketersediaan BBM.
Sebagai langkah penanganan, pemerintah daerah bersama Pertamina meminta SPBU tertentu memperpanjang pelayanan hingga 24 jam. Namun, kebijakan itu juga menimbulkan tantangan bagi petugas yang harus menghadapi peningkatan jumlah pelanggan dengan tenaga kerja terbatas.
Jumlah Pekerja Terbatas, Jam Kerja Bertambah
Admin SPBU 54.801.48, Tria, mengungkapkan bahwa permintaan untuk membuka layanan sepanjang hari membuat para operator terkejut. Situasi tersebut semakin menantang karena seluruh operator di SPBU itu merupakan perempuan, termasuk seorang pekerja yang masih menyusui.
Tria menjelaskan, sebelum kebijakan tersebut diterapkan, SPBU beroperasi mulai pukul 06.00 hingga 23.00 WITA. Sebanyak 12 pekerja menjalankan tugas dengan pembagian dua sif.
Meningkatnya jumlah kendaraan yang mengantre membuat para pekerja harus melayani konsumen hingga melewati jadwal kerja normal. Di sisi lain, pengelola belum bisa langsung mendatangkan tenaga pengganti untuk memberikan waktu istirahat kepada operator.
"Kan mereka jadi kaget (diminta buka 24 jam), apalagi ada satu operator saya itu masih menyusui," ujar Tria saat ditemui di lokasi, Kamis (15/10).
Menurutnya, manajemen sedang membicarakan kemungkinan menambah jumlah pekerja agar pelayanan tetap berjalan tanpa mengabaikan kondisi para operator. Meski demikian, perekrutan tenaga tambahan tidak bisa dilakukan secara instan.
"Karena mereka juga capek kan pengen diganti juga cuma kan nggak secepat itu bisa nyari orang yang bisa gantiin," tuturnya.
Koster: Tidak Ada Miskomunikasi
Wayan Koster memberikan tanggapan atas video yang memperlihatkan operator SPBU menangis saat menyampaikan keluhannya. Ia menegaskan tidak terjadi kesalahpahaman dalam komunikasi antara dirinya dan petugas di lapangan.
Menurut Koster, reaksi emosional tersebut kemungkinan muncul karena petugas mengalami kelelahan saat melayani masyarakat yang memadati SPBU.
"Enggak (ada miskomunikasi). Saya bilang jangan ngeluh, layani konsumen. Walaupun capek iya layani, enggak boleh ngerasa capek," kata Koster di Denpasar, Kamis (15/10).
Koster juga menyatakan bahwa dirinya tidak menganggap insiden tersebut sebagai persoalan besar. Ia menduga tangisan operator merupakan bentuk pelampiasan setelah menghadapi tekanan pekerjaan.
"Iya (mungkin meluapkan kecapeannya). Enggak ada masalah," ujarnya.
Di tengah upaya mengatasi antrean BBM, Pemerintah Provinsi Bali turut menggandeng TNI untuk membantu pengamanan dan mendukung kegiatan operasional malam di sejumlah SPBU di Denpasar dan Badung.
Koster menyampaikan bahwa program bantuan tersebut semula direncanakan menjangkau 66 SPBU. Namun, pelaksanaannya baru terealisasi di 50 SPBU.
Dukungan personel diharapkan membantu menjaga situasi tetap terkendali ketika pelayanan berlangsung pada malam hari, sekaligus mendukung kelancaran aktivitas di tengah tingginya permintaan BBM.
"Iya mungkin kecapean, tapi untuk malam petugasnya dari TNI," terangnya.
"Rencananya di 66 SPBU tapi baru bisa jalan 50 SPBU. (Untuk personil) satu SPBU ada dua dan satu (personil) di Denpasar dan Kabupten Badung," pungkas Koster.