JAKARTA, Cobisnis.com – Perang dagang antara Amerika Serikat dan Kanada memasuki babak baru setelah tarif balasan Kanada resmi berlaku pada Selasa waktu setempat.
Mulai pukul 00.01 ET, pemerintah Kanada mengenakan bea masuk sebesar 15% hingga 50% terhadap produk Amerika Serikat senilai sekitar US$20 miliar.
Langkah tersebut dilakukan sebagai respons terhadap tarif yang sebelumnya diberlakukan Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah produk asal Kanada.
Selain itu, sejumlah kategori barang kini terkena tarif tambahan. Produk kertas, material konstruksi, peralatan rumah tangga, dan komoditas pertanian termasuk dalam daftar yang terdampak.
Sementara itu, ketegangan perdagangan antara kedua negara diperkirakan masih akan berlanjut. Trump bahkan mengancam akan melarang penjualan jet produksi Bombardier di pasar Amerika Serikat. Ancaman tersebut menambah tekanan dalam hubungan dagang kedua negara yang selama ini menjadi mitra perdagangan utama satu sama lain.
Sebelumnya, negosiasi perdagangan antara Washington dan Ottawa hampir menghasilkan kesepakatan. Trump bahkan sempat menunda tenggat waktu penerapan tarif karena menilai solusi sudah dekat.
Namun, pembicaraan akhirnya gagal mencapai titik temu. Kedua pihak tidak berhasil menyelesaikan perbedaan yang tersisa meski negosiasi berlangsung hingga tahap akhir.
Di sisi lain, pemerintah Kanada menegaskan kebijakan tarif balasan bertujuan melindungi kepentingan ekonomi nasional. Ottawa juga berharap langkah tersebut dapat mendorong AS kembali ke meja perundingan.
Karena itu, pelaku usaha di kedua negara kini menghadapi ketidakpastian yang lebih besar. Banyak perusahaan khawatir tarif baru akan meningkatkan biaya operasional dan mengganggu rantai pasok lintas batas.
Meski begitu, pengamat menilai masih ada peluang bagi kedua negara untuk melanjutkan dialog. Jika negosiasi kembali berjalan, ketegangan dagang dapat mereda sebelum memberikan dampak yang lebih luas terhadap perekonomian kawasan Amerika Utara.