Trump dan Netanyahu Bahas Opsi Serangan Baru ke Iran

Oleh Desti Dwi Natasya pada 02 Nov 2026, 20:41 WIB

Trump dan Netanyahu dilaporkan membahas potensi serangan baru ke Iran. Pentagon disebut telah memetakan target, sementara Teheran menyiapkan respons.

JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dilaporkan telah berbicara melalui sambungan telepon dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu pada Sabtu (31/10/2026). Keduanya membahas perkembangan konflik dengan Iran dan kemungkinan dimulainya kembali operasi militer terhadap Teheran.

Komunikasi tersebut berlangsung di tengah persiapan AS untuk menghadapi kemungkinan serangan lanjutan setelah pemilihan paruh waktu pada 3 November 2026.

Dilansir dari berbagai sumber, Senin (2/11/2026), pembicaraan Trump dan Netanyahu terjadi setelah serangkaian pertemuan tertutup antara Trump dan para komandan militer senior di Gedung Putih.

Laporan Axios menyebutkan Netanyahu mendorong Trump agar melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilihan paruh waktu AS. Namun, Trump disebut masih mempertimbangkan kelanjutan jalur negosiasi sebelum mengambil keputusan militer.

Trump juga kembali mengeluarkan ancaman terhadap Iran. Dalam pernyataannya kepada awak media di Mar-a-Lago, Florida, pada Sabtu (31/10/2026), ia menyebut masih ada sejumlah target yang perlu ditangani, meskipun tidak memberikan kepastian mengenai waktu serangan.

"Katakanlah, saya melakukannya, apakah saya akan memberi tahu Anda? Saya tidak bisa memberi tahu Anda ini," kata Trump ketika ditanya mengenai kemungkinan serangan lanjutan.

Di tengah situasi tersebut, sejumlah pejabat AS disebut telah meminta sekutu-sekutu Arab yang menjadi lokasi pangkalan militer Amerika untuk bersiap menghadapi kemungkinan operasi militer.

Pentagon Petakan Target, Iran Siapkan Respons

Di internal militer, Pentagon dilaporkan telah memetakan sejumlah opsi target potensial jika Trump memutuskan melanjutkan operasi terhadap Iran.

Target yang disebut dalam laporan tersebut meliputi fasilitas nuklir, situs militer bawah tanah, hingga Pulau Kharg yang menjadi salah satu pusat ekspor minyak utama Iran di Teluk Persia.

Washington juga dilaporkan memperkuat pertahanan kawasan Timur Tengah dengan mengerahkan tambahan sistem pencegat rudal serta merelokasi pasukan dari sejumlah pangkalan yang dinilai rentan.

Meski demikian, belum ada keputusan final mengenai pelaksanaan serangan baru. Menteri Luar Negeri AS Marco Rubio menyatakan jalur diplomasi masih terbuka selama memungkinkan tercapainya penyelesaian.

Upaya diplomatik juga berlangsung melalui Qatar. Para negosiator Iran bertemu dengan mediator dari negara tersebut di Doha setelah pembicaraan selama lebih dari 12 jam di Teheran.

Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyebut pihaknya tengah mengkaji surat dari Wakil Presiden AS JD Vance yang membuka peluang untuk melanjutkan negosiasi. Inisiatif tersebut dinilai sebagai langkah positif oleh pihak Iran.

Iran Ancam Balasan Tanpa Batas Geografis

Di sisi lain, Iran meningkatkan kesiagaan militernya di tengah kemungkinan serangan baru dari AS dan Israel.

Pemimpin Tertinggi Iran Mojtaba Khamenei memerintahkan angkatan bersenjata negaranya untuk bersiap memberikan respons segera dan efektif apabila Iran kembali mendapat serangan.

Pernyataan tersebut juga menegaskan bahwa respons Iran tidak akan dibatasi oleh wilayah geografis tertentu.

Dengan demikian, situasi antara Washington, Tel Aviv, dan Teheran masih diwarnai dua jalur yang berjalan bersamaan, yakni persiapan militer dan upaya diplomasi.

Hingga kini, belum ada kepastian bahwa Trump akan menyetujui serangan baru terhadap Iran. Perkembangan negosiasi dan keputusan Washington setelah pemilihan paruh waktu AS menjadi faktor penting yang akan memengaruhi langkah selanjutnya.