JAKARTA, Cobisnis.com - Kinerja ekspor minyak sawit Indonesia melemah pada Mei 2026. Data Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia atau GAPKI menunjukkan pengiriman sawit dan produk turunannya turun tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Total ekspor minyak sawit dan produk olahannya tercatat mencapai 1,996 juta ton. Angka ini turun 25,1 persen dibandingkan Mei 2025 yang mencapai 2,664 juta ton.
Secara bulanan, penurunan juga cukup dalam. GAPKI mencatat ekspor sawit pada Mei turun 28,12 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Penurunan ekspor terjadi di tengah melemahnya produksi minyak sawit mentah atau crude palm oil. Kondisi ini menunjukkan industri sawit masih menghadapi tekanan dari sisi produksi maupun perdagangan.
Produksi CPO Indonesia pada Mei mencapai 4,165 juta ton. Jumlah tersebut turun sekitar 7 persen dibandingkan produksi pada April 2026.
Meski produksi turun, persediaan minyak sawit justru meningkat cukup tajam. Stok pada akhir Mei mencapai 3,042 juta ton metrik.
Jumlah tersebut naik 18,9 persen dibandingkan posisi pada akhir April. Kenaikan stok terjadi karena volume ekspor lebih rendah sehingga lebih banyak pasokan tertahan di dalam negeri.
Bertambahnya stok menjadi sinyal bahwa penyerapan pasar ekspor belum mampu mengimbangi pasokan yang tersedia. Kondisi ini juga dapat memengaruhi pergerakan harga dan strategi distribusi pelaku industri.
Indonesia masih menjadi produsen minyak sawit terbesar di dunia. Karena itu, perubahan produksi dan ekspor dari Indonesia turut memengaruhi keseimbangan pasokan minyak nabati di pasar global.
Pelaku industri akan mencermati perkembangan permintaan ekspor pada bulan berikutnya. Pemulihan ekspor dinilai penting untuk menjaga keseimbangan stok dan mendukung kinerja industri sawit nasional.