JAKARTA, Cobisnis.com - Presiden Iran Masoud Pezeshkian mengatakan keputusan mengenai kapan perang antara Iran dan Amerika Serikat (AS) berakhir berada di tangan Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan Pezeshkian dalam wawancara dengan Fox News di sela-sela Sidang Majelis Umum ke-81 PBB di New York pada Kamis (24/9/2026).
Dalam wawancara tersebut, Pezeshkian mengatakan Iran tidak ingin melanjutkan pertempuran dan membuka peluang untuk menyelesaikan konflik melalui dialog. Pernyataan itu juga diberitakan Reuters dan AFP.
"Ketika kita bisa menyelesaikan masalah melalui dialog, kita tidak boleh melakukan pembunuhan satu sama lain," kata Pezeshkian, dikutip dari berbagai sumber, Jumat (25/9/2026).
Namun, Pezeshkian menuding dorongan Israel telah memicu perang terhadap Iran dan mengatakan Teheran tidak ingin konflik tersebut berlanjut.
"Namun atas dorongan yang dilakukan Israel, mereka telah memaksakan perang terhadap kita," tambahnya.
"Tetapi kami tidak ingin melanjutkannya. Amerika-lah yang harus memilih apakah ingin mengakhiri ini atau tidak."
Pezeshkian juga menegaskan Iran siap mencapai kesepakatan dengan Presiden AS Donald Trump untuk mengakhiri konflik.
Ia mempertanyakan mengapa kesepakatan sebelumnya tidak bertahan lama setelah gencatan senjata yang sempat dicapai. Reuters melaporkan pernyataan Pezeshkian muncul ketika kedua negara masih berbeda pandangan mengenai cara mengakhiri perang.
"Mengapa dalam waktu dua minggu setelah penandatanganan perjanjian, mereka memilih untuk meledakkannya?" katanya lagi.
Pezeshkian juga mengatakan Iran tidak mempermasalahkan apakah kesepakatan dicapai sebelum atau setelah pemilu paruh waktu AS.
"Jika pemerintah Amerika saat ini, dalam kerangka hukum internasional, ingin mencapai kesepakatan, baiklah. Jika tidak, sebelum pemilu paruh waktu AS atau setelah pemilu, apa bedanya bagi kita?" tambahnya.
Di tengah upaya diplomasi tersebut, Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi bertemu dengan utusan khusus Trump Steve Witkoff dan menantu Trump, Jared Kushner, di sela-sela Sidang Majelis Umum PBB.
Pertemuan tersebut belum menghasilkan terobosan dalam upaya menyelesaikan konflik.
Dalam wawancara yang sama, Pezeshkian juga membantah bahwa kelompok Houthi di Yaman berada di bawah kendali langsung Teheran.
"Houthi bertanggung jawab atas tindakan mereka sendiri," ujarnya.
"Mereka tidak mengikuti arahan dari kami sebagai pihak yang melakukan perlawanan di wilayah tersebut, berdasarkan situasi yang dikenakan pada mereka," kata Pezeshkian lagi.
"Kami punya kontak dengan mereka. Tidak ada hubungan yang sistematis."
Sementara itu, ketegangan di kawasan juga melibatkan Houthi dan Arab Saudi. Arab Saudi dilaporkan mencegat rudal balistik Houthi pada Kamis setelah kelompok tersebut meningkatkan serangan di kawasan.